Rabu, 25 Mei 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 

KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 3.2

PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Oleh : RIZA ASFA

SMAN 2 HARAU -KAB.LIM APULUH KOTA

SUMATERA BARAT

CGP ANGKATAN 4

 

A. SEKOLAH SEBAGAI EKOSISTEM

             Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak  hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang  saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling  memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

- Murid

- Kepala Sekolah

- Guru

- Staf/Tenaga Kependidikan

- Pengawas Sekolah

- Orang Tua

- Masyarakat sekitar sekolah

- Dinas terkait

- Pemerintah daerah

 

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga

berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya

adalah:

- Keuangan

- Sarana dan prasarana

- Lingkungan alam

B. PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, sekolah akan berhasil jika mampu memandang segala aset (sumber daya) yang dimiliki sebagai sebuah keunggulan bukan memandang sebagai sebuah kekurangan. Sekolah akan berfokus pada pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki tanpa lebih banyak memikirkan pada sisi kekurangan yang ada. Dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah ada 2 pendekatan yang dapat dilakukan yaitu:

1. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah ( Deficit-Based Approach)

Pendekatan yang akan memusatkan  perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak  berfungsi dengan baik. Kita mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi  baik, buku ajar yang tidak lengkap, atau sekolah yang tidak tidak memiliki laboratorium. Kekurangan yang dimiliki mendorong cara berpikir negatif sehingga fokus kita adalah bagaimana mengatasi semua kekurangan atau apa yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang tidak nyaman dan curiga yang dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

2. Pendekatan berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach)

Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Approach)  adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Green & Haines (2010) menjelaskan kecenderungan cara pandang yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset seperti yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

 

Tabel 1.1. Perbandingan dua Pendekatan

 

C. PENDEKATAN ABCD (ASSET-BASSED COMMUNITY DEVELOPMENT)

Pendekatan ABCD atau untuk selanjutnya disebut sebagai pendekatan pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University, Amerika Serikat ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010).

Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven develpoment. Di dalam buku ‘Participant manual of mobilizing Assets for Community-driven Development’ (Cunningham, 2021) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar. Penjelasan yang ada sebetulnya ditujukan untuk pengembangan masyarakat, namun tetap bisa kita implementasikan pada lingkungan sekolah karena sebetulnya adalah miniatur sebuah tatanan masyarakat di suatu daerah.

1. Perubahan masayraat yang signifikant karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi.

2. Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai. Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

3. Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat. Membangun dan membina hibungan antar warga sekolah seperti hubungan guru-gur, guru- kepala sekolah,guru-murid, guru-staf sekolah, staf sekolah-murid, ataupin kepala sekolah-murid menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

4. Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfolus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespon secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya-sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki serta kekuaatan dan aspirasi yang sudah ada.

5. Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada dan pada tingkaat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik.

6. Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaiamana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?’ dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?”. cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas.

7. Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan.

8. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah.

9. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjitan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan iru secara terus menerus.

10. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir(minset) dan siakp yang positif.

 

D. ASET -ASET DALAM KOMUNITAS

            Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sama seperti komunitas pada umumnya. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat memanfaatkan konsep yang digunakan pada pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset. Kita dapat meminjam kerangka dari Green dan Haines (2016), yang memetakan 7 aset utama, atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama. Tujuh modal utama ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah. Dalam pemanfaatannya, ketujuh aset ini dapat saling beririsan.

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development , ada 7 aset utama sebagai modal utama yaitu:

Kategori Aset

Contoh Rincian Aset

1.Modal Manusia 

ü Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan,pendidikan,kesejahteraan dan harga diri seseorang yang dimiliki sekolah.

ü Pemetaan modal atau aset invidu merupakan kegiatan menginvestaris pengetahuan,kecerdasan dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam sebuah komunitas.

ü Pendekatan lain mengelompoka aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan masyarakat.

 

Modal manusia yang telah dimiliki sekolah tempat saya dinas adalah sebagai berikut

1. Kepala Sekolah

2. Tenaga guru dan tenaga kependidikan yang berkualifikasi S1 dan S2

3. Murid.

4. Orang tua murid

5. Komite sekolah

6. Pengawas sekolah.

7. Masyarakat.

2.Modal Sosial

ü Norma/aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada didalamnya dan juga mengatur pola perilaku warga juga unsur kepercayaan dan jaringan antar unsur yang ada.

ü Investasi yang berdampak bagaimana manusia, kelompok dan organisasi dalam komunitas berdampingan.

Modal Sosial yang kami miliki saat ini adalah:

1. Peraturan sekolah

2. Peraturan Asrama

3. Komunitas praktisi.

 

 

 

 

3.Modal Fisik

ü Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi proses pembelajaran,laboratorium,pertemuan ataupun pelatihan.

ü Infrastruktur atau saran prasarana.

 

Modal Fisik yang kami miliki saat ini

1. Ruang kepala sekolah, Guru, TU.

2. Ruang Kelas

3. Ruang Labor Kimia.

4. Ruang Labor Fisika

5. Ruang Labor Biologi.

6. Perpustakaan.

7. Labor TIK

8. Mobiler lain untuk mendukung pembelajaran

9. Lapangan basket,volley.

10. Mesjid.

11. Kantin.

12. Instalasi listrik dan air bersih.

 

4.Modal Lingkungan/Alam

Potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup.

Modal lingkungan /Alam :

Tanah lokasi sekolah terletak dijalur tempat wisata, Lingkungan yang asri, nyaman dan aman, udara bersih.

 

5.Modal Finansial

Dukungan keuangan yang dimiliki dan dapat digunakan untuk pembiayaan proses pembangunan dan kegiatan.

Modal Finansial yang telah kami miliki berasal dari

1. BOP

2. BOS

3. Dana Aspirasi.

6.Modal Politik

ü Ukuran keterlibatan sosial.

ü Lembaga pemerintah/perwakilan dan semua lapisan kelompok yang memiliki hubungan dengan sekolah.

Modal Politik yang dimiliki:

Lokasi sekolah Berada di ibukota kabupaten. Mudah dan dekat melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintahan.


7.Modal Agama dan Budaya

Keberadaan kegiatan ritual kebudayaan dan keagamaan, kelembagaan, dan tokoh-tokoh penting yang berpotensi untuk menunjang pengembangan kegiatan sekolah.

Modal Agama Yang dimiliki:

1. Agama islam

2. Shalat berjamaah.

3. Program Tahfiz

4. Pembiasaan sholat dhuha.

5. Budaya 5S dan sumbang 12.

 

 

 

 

 

Tabel 1.2. Aset-aset/modal yang dimiliki oleh komunitas.

 


                                                     Gambar 1.1. Aset/Modal Sekolah.

E. REFLEKSI

        Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin dalam pengelolaan sumber daya merupakan sebuah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mengelola dan memanfaatkan berbagai aset-aset yang dimiliki oleh sekolahnya alam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan di sekolah dan mewujudkan pembelajaaran yang berpihak pada murid. Salah satu aset yang paling utama yang dimiliki sekolah yaitu modal manusia. Jika modal manusia ini mampu dimanfaatkan dan dikelola dengan baik maka mutu pendidikan di sekolah akan meningkat. Seorang pemimpin sekolah harus mampu menggerakan guru-guru yang adad di sekolah untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan dan juga pembelajaaran berdiferensiasi sehingga pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru lebih berpihak pada murid. Dengan sekolah mampu mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid maka segala minat, bakat, dan potensi yang dimiliki oleh murid akan dapat berkembang secara maksimal.

    Muncul pertanyaan, bagaimana saya sebagai bagian komunitas di sekolah dapat mengimplementasikan pemimpin pembelajaran dalam  pengelolaan sumber daya?. Untuk dapat mengimplementasikan modul pemimpin dalam pengelolaan sumber daya di kelas, sekolah dan masyarakat sekitar sekolah maka sebagai seorang pemimpin harus mampu bersinergi dengan semua pihak yang ada di sekolah baik dewan guru, tenaga kependidikan ,siswa, orang tua siswa dan juga masyarakat sekitar sekolah untuk dapat secara bersama-sama menginventarisir/memetakan segala sumber daya/aset yang dimiliki sekolah dan menjadikan segala aset tersebut sebagai kekuatan yang dimiliki oleh skeolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan sekolah. Kita harus sadar dengan kelebihan yang kita miliki dan kita harus memanfaatkan kelebihan tersebut. Jangan hanya memandang kelemahan/ kekurangan yang ada saja. Contohnya aset yang digunakan dalam pembelajaran. Memanfaatkan lingkungan sebagai media untuk belajar, misalkan saya menjelaskan tentang phytagoras kepada siswa kelas X. Saya mengajak siswa keluar kelas menuju lapangan upacara yang ada tiang benderanya. Dengan memanfaatkan aset manusia yaitu murid dan guru kemudian memanfaatkan aset lingkungan tiang bendera mencari tinggi tiang bendera dengan menggunakan konsep phytagoras. Selain itu mungkin banyak hal lain yang bisa saya lakukan sebagai seorang guru untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dengan mengenal dulu apa sumber daya yang ada.

 

F. KAITAN MODUL PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM  PENGELOLAAN SUMBER DAYA DENGAN MODUL LAIN.

            Materi di dalam program guru penggerak mempunyai tujuan yang satu yaitu menjadikan siswa menjadi pelajar profil pancasila. Adapun kaitan modul 3.2. , pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan seumber daya dengan modul-modul yang sudah dipelajari adalah sebagai berikut:

NO

MODUL

KAITAN DENGAN MODUL MENGELOLAAN SUMBER DAYA

1. 

Modul 1.1

REFLEKSI FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA KI HADJAR DEWANTARA

v Menurut KHD, Pendidikan adalah suatu proses memberi tuntunan terhadap segala segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

v Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus cerdas dalam mengelola dan menggali kemampuan dan potensi yang ada pada muridnya, menyesuaikan dengan kodrat yang telah dimiliki murid, agar murid nyaman, bahagia selama proses belajar di sekolah.

2.

Modul 1.2

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

v Nilai guru penggerak yaitu  yaitu:

a. berpihak pada murid

b. Mandiri

c. Kolaboratif

d. Reflektif

e. inovatif

v Nilai guru pengerak tersebut menjadi nilai positif yang digunaan untuk mengelola sumber daya agar tepat guna dan tepat sasaran. Dengan diterapkannya nilai-nilai ini maka sekolah akan dapat mewujudkan murid yang memiliki profil pelajar pancasila.

3

Modul 1.3

VISI GURU PENGGERAK

v Materi pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya juga berkaitan dengan materi visi guru penggerak. Seorang pemimpin harus mampu meyusun visi  dan misi yang jelas., terarah dan tentunya nanti visi yang disusun tersebut harus berpihak pada sumber daya yang dimiliki sekolah terutama guru dan juga murid. Melalui penerapan inkuiri aperseatif dengan menggunakan tahapan BAGJA, seorang pemimpin akan dapat melakukan peubahan positif yang akhirnya menghasilkan budaya positif.

4

Modul 1.4

BUDAYA POSITIF

v Perubahan positif yang dihasilkan dari penerapan Inkuiri Apersiatif , digali dari sumber daya yang ada oleh pemimpin pembelajaran menghasilkan budaya positif.

5

Modul 2.1

MEMENUHI KEBUTUUHAN BELAJAR MURID MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

v Sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus mampu melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan minat ,profil dan bakat murid yang dikenal sebagai pembelajaran berdiferensiasi. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi maka seorang pemimpin harus mampunyai kemampuan untuk memetakan dan menggali  sumber daya yang dimiliki oleh murid sehingga pembelajaran berdiferensi terlaksana dengan baik.

6

Modul 2.2

PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

v Kekuatan yang dimiliki oelh murid dapat dikembangkan lebih jauh lagi dengan memperhatikan sisi sosial dan emosional murid. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran kita harus memahami  dan mengelola sisi sosial emosional murid sehingga nanti terciptalahpembelajaran yang berpihak pada murid.

7.

Modul 2.3

COACHING

v Coaching sangat diperlukan untuk menggali masalah dan potensi yang dimilik murid sehingga murid mampu menemukan penyelesaian dari masalah yang dihadapi oleh murid terkait dengan pemanfaatan sumber daya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus mampu memetakan sumber daya murid dalam menyelesaikan masalah mereka sendiri.

8.

Modul 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN.

v Terdapat prinsip  dan langkah-langkah pengambilan keputusan ketika berada dalam situasi dilema etika dan bujukan moral. Dalam pengelolaan sumber daya/aset dibutuhkan kemampuan pemimpin dalam mengambil keputusan ketika melaksanakan pengelolaan sumber daya yang ada.Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, tepat dalam mengelola sumber daya agar tidak keluar dari norma dan aturan yang ada.

Tabel 1.3. Koneksi materi modul 3.2 dengan modul lainnya.


            Muncul lagi pertanyaan, bagaimana hubungan terkait materi sebelum dan sesuadah mengikuti pelatihan?. Pertanyaan yang sangat bagus karena yang saya rasakan sangat luar biasa membuka wawasan pengetahuan dan mindset saya. Sebelumnya wawasan saya sangat sempit dan mindset berpikir saya masih belum terbuka dalam hal-hal yang terjadi dalam saya mengerjakan tugas saya sebagai guru. Bagaimana menggali potensi diri untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid, menggali potensi murid sehingga kemampuanya terasah dan berkembang. Itu saya dapatkan setelah saya mengikuti pelatihan guru penggerak. Luar biasa membuka wawasan ilmu dan memperbaiki mindset berpikir saya yang selama ini ternyata keliru.

             Demikian tugas modul 3.2.a.9 tenteng koneksi antar materi modul pemimpin dalam pengelolaan sumber daya yang dapat saya buat.

 

 

Selasa, 17 Mei 2022

PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA


Ternyata kita sebagai pemimpin pembelajaran tidaklah harus selalu berfokus kepada pendekatan berbasis kekurangan atau masalah yang ada di sekolah karena nyatanya pengelolahan sumber daya bisa dimaksimalkan dengan pendekatan berbasis aset dan kekuatan yang dimiliki oleh sekolah. Fokus pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan, berpikir akan kesuksesan yang telah diraih, mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya, merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan serta melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan merupakan inti utama dari pendekatan berbasis aset itu sendiri. 





Jumat, 22 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN.

RANGKUMAN MATERI:



Assalamualaikum wr.wb

Perkenalkan, nama saya Riza Asfa. Saya guru SMAN 2 Kec. Harau Kab. Lima Puluh kota-Sumatera Barat. Saya Calon Guru Penggerak Angakatan 4 tahun 2021-2022. Saya mengucapkan terima kasih kepada Fasilitator saya, Bapak Baheramsyah, S.Pd, M.M yang selalu membimbing, mengarahkan dan memberikan support kepada saya. Kepada Pengajar Praktik saya Bu Dra. Dewi Putri yang selalu tanpa lelah memberikan bimbingan dan motivasi dalam pendidikan calon guru penggerak ini. 

Sebagaimana kita ketahui bersama Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara terdiri atas tiga semboyan yakni : ing ngarso sung tulado, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani .Yang pertama ingarso Sung tulodo yang berarti bahwa di depan dapat memberikan teladan yang baik bagi murid-muridnya, rekan sejawat maupun warga sekolah lainnya. Oleh karena itu dalam mengambil suatu keputusan sebagai  pemimpin pembelajaran yaitu guru harus terlebih dahulu menganalisis dan mempertimbangkan matang-matang karena segala keputusan yang diambil akan menjadi contoh bagi murid – murid, rekan sejawat dan warga sekolah lainnya.Yang kedua ing Madyo Mangun Karso yang artinya ditengah dapat membangun karsa atau kemampuan atau semangat. Oleh karena itu guru harus mampu mengambil keputusan-keputusan yang berpihak kepada murid dan dapat membangkitkan Karsa semangat dan kemampuan murid-muridnya. Yang ketiga  Tut Wuri Handayani yang berarti di belakang dapat memberikan dorongan kinerja pada murid agar dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Hal ini berarti bahwa guru harus mampu mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan kegiatan sekolah yang dapat mendorong potensi murid agar dapat berkembang sesuai dengan minat, profil dan kesiapan belajarnya. Pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kemandirian dan  kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.

Setiap guru semestinya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar. Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik. Ada tiga prinsip pengambilan keputusan  yaitu :

1.  Rule-based Thinking atau pemikiran berbasis peraturan.

Rule-based Thinking biasanya diambil oleh orang-orang yang mengedepankan intuisi, kejujuran, aturan atau suatu prinsip yang mendalam.

2.  End-based Thingking atau pemikiran berbasis hasil akhir

End-based Thingking biasanya diambil oleh orang-orang yang mengutamakan nilai-nilai agama, penghargaan akan kehidupan, masa depan dan kepentingan orang banyak

3. Care-based Thingking atau pemikiran berbasis rasa Peduli.  .

Care-based Thingking biasa diambil oleh orang-orang yang mengutamakan rasa kasih sayang, cinta, toleransi, kesetiaan dan  empati.

Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.

Coaching adalah keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah sangat membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nnilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan jiwa merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk menggali potensi murid agar menjadi lebih merdeka mengeluarkan ide kreatifnya dalam penyelesaian masalah sendiri. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

T : Tujuan

I : Identifikasi

R : Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan. Seorang guru penggerak diharapkan mampu menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat potensi murid Anda. Bagaimana cara seorang guru menjaga agar dapat menyingkirkan sumbatan yang ada? Jawabannya adalah keterampilan coaching

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Sebuah pengambilan keputusan yang baik dan tepat tentunya harus dilakukan secara bertahap dan menganalisis terlebih dahulu berbagai aspek. Pertama yang harus dipertimbangkan adalah empat paradigma Dilema etika. Kita harus melihat terlebih dahulu paradigma dilema etika apa yang sedang terjadi? Apakah paradigma Dilema etika individu melawan masyarakat, rasa keadilan melawan rasa kasihan, kebenaran melawan kesetiaan, atau jangka pendek melawan jangka Panjang. Kita juga harus melihat misi pengambilan keputusan yang paling tepat. Apakah Rule-based Thingking, Apakah End-based Thingking dan apakah Care-based Thingking. Selanjutnya keputusan tersebut haruslah diambil dengan menggunakan langkah-langkah pengambilan keputusan.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Muncul sebuah pertanyaan apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan saya? Pertanyaan yang sulit dan jawaban saya yaitu iya, kesulitan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang kadang jika memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Menurut pendapat saya, semua tergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil, apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid hanya sebuah omong kosong belaka dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kondratnya.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

Kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :

u Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.

u Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).

u Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.

u Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, semoga bermanfaat. Terima Kasih.

 

Selasa, 19 April 2022

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1


 Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

 Cara saya nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal saya adalah:

Cara pertama: 

Saya akan menerapkan di lingkungan sekolah saya terlebih dahulu dengan cara memulai dari diri sendiri menerapkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan dalam pendidikan guru penggerak, seperti menerapkan budaya positif, bagaimana cara pelaksanaan pembelajaran berdiferensial, Pembelajaran sosial dan emosional dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Cara Kedua:

Mensosialisasikan dan mendiskusikan  materi-materi program guru penggerak yang telah   didapatkan melalui komunitas praktisi SMAN 2 Kec.Harau  yang sudah dibentuk dan juga ke semua warga sekolah terutama guru melalui rapat dewan guru SMAN 2 Kec.harau. Setelah disosialisasikan , berusaha untuk mengajak menerapkan materi tersebut.

Cara Ketiga:

Mensosialisasikan materi-materi program guru penggerak melalui tulisan- tulisan di blog atau youtube dan media sosial lainnya.

Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran di sekolah dalam rangka mewujudkan merdeka belajar dengan pembelajaran yang berpihak kepada murid, tentunya suatu waktu kita akan dihadapkan pada situasi dilema untuk mengambil sebuah keputusan yang terbaik dan menguntungkan semua pihak. Adapun langkah-langkah awal yang akan saya lakukan yaitu:

² Memastikan bahwa dalam mengambil sebuah keputusan sudah sesuai dan sejalan dengan visi dan misi yang telah kita susun dan sepakati bersama.

² Melakukan analisa terhadap situasi atau kasus yang saya hadapi disesuaikan dengan paradigma pengambilan keputusan yaitu apakah paradigma individu lawan masyarakat, keadilan lawan kasihan, kebenaran kawan kesetiaan dan jangka panjang lawan jangka pendek.

² Memilih salah satu atau mungkin ketiganya dari tiga prinsip pengambilan keputusan yang ada yaitu apakah berpikir berbasis hasil akhir, berbasis peraturan atau berpikir berbasis rasa peduli.

² Melakukan 9 langkah pengambilan  yaitu:

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4. Pengujian benar atau salah

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

6. Melakukan Prinsip Resolusi

7. Investigasi Opsi Trilema

8. Buat Keputusan

9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

KApan saya akan mu;ai menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan tidak bisa dipastikan apakah hari ini , atau besok  atau mingu depan atau hari apa. Langkah-langkah pengambilan keputusan itu saya terapkan ketika saya dihadapkan pada situasi dilema etika yang memerlukan pengambilan keputusan terbaik yang menguntungkan semua pihak. Jika hari ini saya mengalami dilema etika maka saya akan menerapkan lanagkah-langkah tersebut. Jika besok saya mengalami dilema etika maka besok saya akn menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan tersebut. Begitu seterusnya.  Harapan saya ketika saya mengalamidihadapkan pada situasi dilema etika saya dapat melakukakan pengambilan keputusan dengan memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Dalam pengambilan sebuah keputusan tidak bisa dilakukan hanya oleh kita sendiri saja. Butuh masukan-masukan dari berbagai pihak. Dari rekan-rekan yang bisa diajak diskusi dan berbagi sehingga kita bisa mengetahui keputusan yang kita ambil ini tepat atau efektif atau belum. Menurut saya orang-orang yang bisa saya jadikan teman diskusi untuk menentukan apakah langkah-langkah yang saya telah ambil tepat dan efektif adalah  pengajar praktik saya, rekan CGP yang satu sekolah dengan saya, rekan CGP yang dekat dengan sekolah saya, rekan sejawat dalam komunitas praktis yang mempunyai visi yang sama dengan saya,  kepala sekolah , siswa, orang tua murid, komite bahkan juga bisa pengawas sekolah.

MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN AI